Showing posts with label SOSIAL BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label SOSIAL BUDAYA. Show all posts

Sejarah Perkembangan Kesenian Wayang


Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa.


Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme. Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas.

Namun demikian banyak para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang dan masalah ini ternyata sangat menarik sebagai sumber atau obyek penelitian. Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang / Kediri.

Sekitar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

Masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh puteranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang Purwa.

Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem ceritera wayang Purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran Wayang Purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya.

Para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan. Pada masa itu pagelaran wayang Purwa sudah diiringi dengan gamelan laras slendro. Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh puteranya yaitu Raden Kudalaleyan yang bergelar Suryaamiluhur. Selama masa pemerintahannya beliau giat pula menyempurnakan Wayang. Gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada pada daun lontar. Dengan gambaran wayang yang dilukis pada kertas ini, setiap ada upacara penting di lingkungan kraton diselenggarakan pagelaran wayang.

Pada jaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu wayang jenis ini biasa disebut wayang Beber.

Semenjak terciptanya wayang Beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian Kraton, tetapi malah meluas ke lingkungan diluar istana walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Sejak itu masyarakat di luar lingkungan kraton sempat pula ikut menikmati keindahannya.

Bilamana pagelaran dilakukan di dalam istana diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa Rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan. Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terakhir, kebetulan sekali dikaruniai seorang putera yang mempunyai keahlian melukis, yaitu Raden Sungging Prabangkara.

Bakat puteranya ini dimanfaatkan oleh Raja Brawijaya untuk menyempurkan wujud wayang Beber dengan cat. Pewarnaan dari wayang tersebut disesuaikan dengan wujud serta martabat dari tokoh itu, yaitu misalnya Raja, Kesatria, Pendeta, Dewa, Punakawan dan lain sebagainya. Dengan demikian pada masa akhir Kerajaan Majapahit, keadaan wayang Beber semakin Semarak. Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala ; Geni murub siniram jalma ( 1433 / 1511 M ), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.

Pada masa itu sementara pengikut agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri.

Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan ketrampilan para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para Wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan di-buat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki. Wayang dari kulit kerbauini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya di cat dengan tinta.

Pada masa itu terjadi perubahan secara besar- besaran diseputar pewayangan. Disamping bentuk wayang baru, dirubah pula tehnik pakelirannya, yaitu dengan mempergunakan sarana kelir / layar, mempergunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, mempergunakan blencong sebagai sarana penerangan, mempergunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang. Dan diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meskipun demikian dalam pagelaran masih mempergunakan lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata, namun disana- sini sudah mulai dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang. Adapun wayang Beber yang merupakan sumber, dikeluarkan dari pagelaran istana dan masih tetap dipagelarkan di luar lingkungan istana.

Pada jaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi karena diprada dengan cat yang berwarna keemasan.

Pada jaman itu pula Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri, berkenan menciptakan wayang jenis lain yaitu wayang Gedog. Bentuk dasar wayang Gedog bersumber dari wayang Purwa. Perbedaannya dapat dilihat bahwa untuk tokoh laki-laki memakai teken. Lakon pokok adalah empat negara bersaudara, yaitu Jenggala, Mamenang / Kediri, Ngurawan dan Singasari. Menurut pendapat Dr. G.A.J. Hazeu, disebutkan bahwa kata Gedog berarti kuda. Dengan demikian pengertian dari Wayang Gedog adalah wayang yang menampilkan ceritera-ceritera Kepahlawanan dari Kudawanengpatiatau yang lebih terkenal dengan sebutan Panji Kudhawanengpati. Pada pagelaran wayang Gedog diiringi dengan gamelan pelog.

Sunan Kudus salah seorang Wali di Jawa menetapkan wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana. Berhubung wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana, maka Sunan Bonang membuat wayang yang dipersiapkan sebagai tontonan rakyat, yaitu menciptakan wayang Damarwulan . Yang dijadikan lakon pokok adalah ceritera Damarwulan yang berkisar pada peristiwa kemelut kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu, akibat pemberontakan Bupati Blambangan yang bernama Minak Jinggo.

Untuk melengkapi jenis wayang yang sudah ada, Sunan Kudus menciptakan wayang Golek dari kayu. Lakon pakemnya diambil dari wayang Purwa dan diiringi dengan gamelan Slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer dan rebab. Sunan Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni pedalangan pada masa itu dengan menciptakan Topeng yang dibuat dari kayu. Pokok ceriteranya diambil dari pakem wayang Gedog yang akhirnya disebut dengan topeng Panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang Purwa. Pada masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya, diadakan perbaikan bentuk wayang Purwa dan wayang Gedog. Wayang ditatah halus dan wayang Gedog dilengkapi dengan keris.

Disamping itu baik wayang Purwa maupun wayang Gedog diberi bahu dan tangan yang terpisah dan diberi tangkai. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrawati, wayang Beber yang semula dipergunakan untuk sarana upacara ruwatan diganti dengan wayang Purwa dan ternyata berlaku hingga sekarang. Pada masa itu pula diciptakan beberapa tokoh raksasa yang sebelumnya tidak ada, antara lain Buto Cakil. Wajah mirip raksasa, biasa tampil dalam adegan Perang Kembang atau Perang Bambangan.

Perwujudan Buta Cakil ini merupakan sengkalan yang berbunyi: Tangan Jaksa Satataning Jalma ( 1552 J / 1670 M ). Dalam pagelaran wayang Purwa tokoh Buta Cakil merupakan lambang angkara murka. Bentuk penyempurnaan wayang Purwa oleh Sultan Agung tersebut diakhiri dengan pembuatan tokoh raksasa yang disebut Buta Rambut Geni, yaitu merupakan sengkalan yang berbunyi Urubing Wayang Gumulung Tunggal: ( 1553 J / 1671 M ). Sekitar abad ke 17, Raden Pekik dari Surabaya menciptakan wayang Klitik, yaitu wayang yang dibuat dari kayu pipih, mirip wayang Purwa. Dalam pagelarannya dipergunakan pakem dari ceritera Damarwulan, pelaksanaan pagelaran dilakukan pada siang hari.

Pada tahun 1731 Sultan Hamangkurat I menciptakan wayang dalam bentuk lain yaitu wayang Wong. Wayang wong adalah wayang yang terdiri dari manusia dengan mempergunakan perangkat atau pakaian yang dibuat mirip dengan pakaian yang ada pada wayang kulit.

Dalam pagelaran mempergunakan pakem yang berpangkal dari Serat Ramayana dan Serat Mahabarata. Perbedaan wayang Wong dengan wayang Topeng adalah ; pada waktu main, pelaku dari wayang Wong aktif berdialog; sedangkan wayang Topeng dialog para pelakunya dilakukan oleh dalang.

Pada jaman pemerintahan Sri Hamangkurat IV; beliau dapat warisan Kitab Serat Pustakaraja Madya dan Serat Witaraja dari Raden Ngabehi Ranggawarsito. Isi buku tersebut menceriterakan riwayat Prabu Aji Pamasa atau Prabu Kusumawicitra yang bertahta di negara Mamenang / Kediri.

Kemudian pindah Kraton di Pengging. Isi kitab ini mengilhami beliau untuk menciptakan wayang baru yang disebut wayang Madya. Ceritera dari Wayang Madya dimulai dari Prabu Parikesit, yaitu tokoh terakhir dari ceritera Mahabarata hingga Kerajaan Jenggala yang dikisahkan dalam ceritera Panji.
Bentuk wayang Madya, bagian atas mirip dengan wayang Purwa, sedang bagian bawah mirip bentuk wayang gedog. Semasa jaman Revolusi fisik antara tahun 1945 - 1949, usaha untuk mengumandangkan tekad pejuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan berbagai cara.

Salah satu usaha ialah melalui seni pedalangan. Khusus untuk mempergelarkan ceritera- ceritera perjuangan tersebut, maka diciptakanlah wayang Suluh.

Wayang Suluh berarti wayang Penerangan, karena kata Suluh berarti pula obor sebagai alat yang biasa dipergunakan untuk menerangi tempat yang gelap. Bentuk wayang Suluh, baik potongannya maupun pakaiannya mirip dengan pakaian orang sehari-hari.

Bahan dipergunakan untuk membuat wayang Suluh ada yang berasal dari kulit ada pula yang berasal dari kayu pipih. Ada sementara orang berpendapat bahwa wayang suluh pada mulanya lahir di daerah Madiun yang di ciptakan oleh salah seorang pegawai penerangan dan sekaligus sebagai dalangnya. Tidak ada bentuk baku dari wayang Suluh, karena selalu mengikuti perkembangan jaman. Hal ini disebabkan khususnya cara berpakaian masyarakat selalu berubah, terutama para pejabatnya .

Sutini BA
- Sumber : diambil dari buku Nawasari Warta, Oktober 1994

- pitoyo.com

Category:

Sendratari Mahakarya Borobudur


Sinopsis
Adegan 1:

Suasana hati dalam kehidupan cenderung berubah bagai Cakra Manggilingan, yang menggambarkan keserakahan, keangkaramurkaan, saling menindas yang mengakibatkan kacau dan suasana mencekam. Kehadiran Rakai Panangkaran yang dikenal sebagai sosok spiritualis tanggap terhadap kehidupan manusia yang perbuatannya tidak terpuji, untuk itu maka ia mengajarkan tentang jalan kehidupan yang baik. Ajaran tersebut dalam bentuk batu berundak (Candi) yang berisi ajaran hidup Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu.





Adegan 2:
Suasana kerakyatan dan kegotongroyongan, kebersamaan dan semangat masyarakat di lereng Bukit Menoreh dalam mengawali pembangunan Candi Borobudur. Kemudian muncul gangguan dari makhluk halus yang mengakibatkan penderitaan rakyat. Para punggawa kerajaan dan Bhiku segera mengambil tindakan untuk mengusir roh-roh jahat.





Adegan 3:
Raja Samaratungga bertekat untuk menyelesaikan pembangunan Candi, dengan bantuan dan dukungan segenap rakyat secara bersatu padu bekerja keras untuk menyelesaikan bangunan Candi Borobudur.








Adegan 4:
Raja Samaratungga, para punggawa dan segenap masyarakat bersyukur atas selesainya pembangunan Candi Borobudur dengan bersimpuh dan berdoa di bawah pimpinan para Bhiku untuk perdamaian dan kedamaian hidup.







Sejarah Mahakarya Borobudur ketika sejarah datang untuk tinggal. Sebuah acara spestacular membawa Anda pada pengembaraan sensorik melalui kinerja yang luar biasa cahaya dan suara dan 250 penari tradisional Jawa. Anda akan berkedip kembali sejarah selama waktu saat ini keajaiban dunia kuno atau pernah pusat kerajaan yang kuat.











Tempat Pertunjukan :
Panggung Terbuka Aksobya CANDI BOROBUDUR Magelang, Jawa Tengah, Indonesia

Category:

Sendratari Ramayana


Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit tertandingi. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta.

Kisah Ramayana yang dibawakan pada pertunjukan ini serupa dengan yang terpahat pada Candi Prambanan. Seperti yang banyak diceritakan, cerita Ramayana yang terpahat di candi Hindu tercantik mirip dengan cerita dalam tradisi lisan di India. Jalan cerita yang panjang dan menegangkan itu dirangkum dalam empat lakon atau babak, penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas.

Anda tidak akan kecewa bila menikmati pertunjukan sempurna ini sebab tak hanya tarian dan musik saja yang dipersiapkan. Pencahayaan disiapkan sedemikian rupa sehingga tak hanya menjadi sinar yang bisu, tetapi mampu menggambarkan kejadian tertentu dalam cerita. Begitu pula riasan pada tiap penari, tak hanya mempercantik tetapi juga mampu menggambarkan watak tokoh yang diperankan sehingga penonton dapat dengan mudah mengenali meski tak ada dialog.

Anda tidak hanya bisa menjumpai tarian saja, tetapi juga adegan menarik seperti permainan bola api dan kelincahan penari berakrobat. Permainan bola api yang menawan bisa dijumpai ketik Hanoman yang semula akan dibakar hidup-hidup justru berhasil membakar kerajaan Alengkadiraja milik Rahwana. Sementara akrobat bisa dijumpai ketika Hanoman berperang dengan para pengikut Rahwana. Permainan api ketika Shinta hendak membakar diri juga menarik untuk disaksikan.

Di Yogyakarta, terdapat dua tempat untuk menyaksikan Sendratari Ramayana. Pertama, di Purawisata Yogyakarta yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, sebelah timur Kraton Yogyakarta. Di tempat yang telah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2002 setelah mementaskan sendratari setiap hari tanpa pernah absen selama 25 tahun tersebut, anda akan mendapatkan paket makan malam sekaligus melihat sendratari. Tempat menonton lainnya adalah di Candi Prambanan, tempat cerita Ramayana yang asli terpahat di relief candinya.

dahulu sendratari hanya di pentaskan pada saat bulan purnama. tetapi untuk memenuhi kebutuhan pariwisata, sendratari kini bisa disaksikan seminggu 3x gan.

jadwal pementasan sendratari:
Sendratari Ramayana di Purawisata Yogyakarta
Harga Tiket: Rp. 175.000
Fasilitas:
• Makan malam di Jimbaran Resto
• Melihat pentas gamelan selama makan malam
• Kunjungan ke backstage untuk melihat persiapan penari jika datang lebih awal
• Dapat memotret selama pertunjukan
• Foto bersama para penari setelah pertunjukan
Jadwal Pementasan:
Pukul 18.00 – 21.30 WIB
Setiap hari.
sendratari:
(check agenda kegiatan gan, soalnya gak setiap hari tampil, setiap tanggal 1, 3, 5, 8, 10, 12, 15, 17, 19, 22, 24, 26, 29, 31)
Sendratari Ramayana Prambanan PAGELARAN SENDRATARI RAMAYANA
Waktu : 19.30 – 21.30 WIB
Tempat : Indoor Theater / Panggung Tertutup Trimurti
Taman Wisata Candi Prambanan
Jalan Raya Yogya-Solo km 16 Prambanan, Yogyakarta
Phone : +62 274 496408
Fax : +62 274 496408
Kategori : Pertunjukan budaya, Sendratari
Deskripsi : Sendratari Ramayana dipentaskan di tempat kisah itu dipahat seribu tahun silam: Candi Prambanan. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana yang dirangkum dalam 4 babak: penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Category:

Grebeg Sekaten


Grebeg history can not be released to the history of Wali Sanga. One method of dissemination of Islamic religion at that time was a cultural approach. This method is used because at that time developing States culture and the arts well. Through this method, Islam spread by injecting a variety of Islamic teachings with assimilation and acculturation. one of the most influential mayor at the time of Sunan Kalijaga. Wali Islam is spread by collecting societies and gamelan sounds placed in the mosque yard. After the public flocked to watch, Sunan Kalijaga preach to express the virtue of Islamic religious teachings. This is where the term then sekaten. Sekaten derived from the Arabic Syahadatain containing two meanings of the sentence. First, bear witness that there is no God who must be worshiped except Allah. Second, testified that the Prophet Muhammad is the messenger of God. Because of hard to say, eventually it became sekaten. Tradition of organizing the celebration sekaten then continued in the first period of the Mataram Kingdom under the rule of Panembahan Senopati. And now sekaten become a tradition in the Sultanate of Yogyakarta and Surakarta Kasunanan. It is in accordance with one of the obligations of a Sultan Panata Sayidin Gama, namely the duty of religious leaders to spread the religion islam.Gamelan that sounded to attract attention, in celebration sekaten in Yogyakarta there are two devices, namely Kanjeng Gunturmadu and Kangjeng Kiai Kiai Nogowilogo. Two devices are in the orchestra mosque yard Gede Yogyakarta Kingdom. Both the gamelan was drawn back to the palace when the night before the ceremony begins Grebeg the next day. King-people communication (Manunggaling Kawulo-Gusti) The procession of mountains or seizure, known as Grebeg begins with the procession of soldiers surrounded the palace of Yogyakarta Kingdom. Only then issued for the mountains brought to Cede Mosque located in north plaza. Procession procession was preceded by a Bugis warrior who then followed the carpenter's courtiers regents, and the new Kagungan Dalem Pareden (mound) which consists of six mountains. Sixth mountains covered mountains lanang 2 fruit, 1 mountain wadon, gepak mound 1, 1 mountain land, and pawuhan mountains 1. All the mountains were filled with agricultural products like beans and corn. In the procession procession was one of the mountains was brought to the Paku lanang Alamans and then taken to the field Sewandanan for grabs as well. When taken to Paku
Alaman, was escorted mountains lanang five elephants. Mound or ceremonial musical Grebeg signifies a symbol of cultural communication between the king and his subjects. That the king could be very close and watch his people (his kawulo). This is indicated by the king to give a number of agricultural products to people. Actually, in the tradition of this celebration sekaten not only mountains and udhik-udhik laden with gifts. But came the ndok brother (eggs dyed red) and chew of betel. Red egg is believed to be repellent reinforcements, whereas if chewed right chew of betel as gamelan sounds, believed to be able to make young people. Grebeg the Sultan's Palace was conducted over 1 year of Java into three namely: Grebeg Mulud on 12 Mulud coincide with the commemoration of the Prophet Muhammad Birthday, Grebeg Syawal which was held on 1 month of Ramadhan as an expression of public thanks to God, to have successfully completed during the fasting a full month of the Holy month of Ramadan, and the Great Grebeg held on 10 months of, relating to warning Hari Raya Qurban - Idhul Adha.













Category:

Kuda Lumping Dance ( Metal Gedrug )


Kuda lumping also called braid or Jathilan lesson is a traditional Javanese dance show was a group of soldiers on horseback. This dance uses a horse made of woven bamboo and cut in the shape of a horse. This horse matting paint and decorated with colorful cloth. Lumping horse dance is usually only show saber scene, but lumping some of the horses also possessed attractions serve, immunity, and magical powers, like eating glass and attractions immunity against flogging whip. That said, lumping horse dance is a form of appreciation and support of the commoners against the cavalry of Prince Diponegoro in the face of Dutch colonizers. There is also a version that says, that lumping horse dance depicting the struggle of Raden Patah, assisted by Sunan Kalijaga, against the Dutch colonialists. Another version says that, this dance tells the story of the war training troops led Mataram Sultan Hamengkubuwono I, King of Mataram, to face the Dutch troops. Regardless of the origin and historical value, lumping horse dance reflects the spirit of heroism and military aspects of a cavalry or cavalry. This can be seen from rhythmic movements, dynamic, and aggressive, with a wave of woven bamboo, imitating the movements like a horse in the middle of the war. Often in lumping horse dance, also displays showing the sights smells magical supernatural powers, such as the attraction to chew glass, cutting his arms with machetes, set fire to himself, walking on broken glass, and others. Perhaps, this reflects the attraction of the supernatural power developed in the ancient kingdom of Java environments, and is a non-military aspects that are used to fight the Dutch troops.




















































































































































































































Category:

Pages

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...